Lutimterkini- Unaaha — Penguatan ekosistem riset dan inovasi di Kabupaten Konawe memerlukan kerja sama lintas sektor, bukan sekadar tanggung jawab pemerintah atau perguruan tinggi semata. Pandangan itu disampaikan Dr. Ir. Alkadri, S.T., M.T, akademisi Universitas Lakidende (Unilaki) Konawe yang juga menjabat Wakil Rektor III, dalam forum Fasilitasi dan Pembinaan Penguatan Kelembagaan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Konawe. Kegiatan yang digelar Bidang Inovasi dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Konawe itu berlangsung di salah satu hotel di Unaaha, Senin (07/09/2026).
Alkadri menjelaskan bahwa konsep Penta Heliks menjadi jalan untuk menyatukan lima unsur, yakni pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media. Menurutnya, kelima pihak tersebut punya fungsi berbeda namun saling melengkapi. Ia menegaskan bahwa riset tidak akan berkembang maksimal bila hanya dibebankan pada satu institusi saja. Keterlibatan banyak pihak dinilai perlu agar hasil penelitian bisa dirasakan langsung oleh warga dan menopang pembangunan daerah.
Lebih jauh, Alkadri memaparkan pembagian peran dalam kerangka tersebut. Pemerintah berfungsi menyiapkan aturan dan kebijakan pendukung. Perguruan tinggi bertugas menghasilkan ilmu pengetahuan, kajian, serta inovasi berbasis penelitian. Dunia usaha mengambil bagian dalam penerapan dan hilirisasi inovasi. Masyarakat berperan sebagai pengguna sekaligus penggerak, sementara media menyebarkan informasi dan mempublikasikan capaian inovasi daerah.
Kolaborasi itu dipandang krusial mengingat Konawe menyimpan banyak potensi, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, pariwisata, sampai pengembangan sumber daya manusia. Alkadri berharap sinergi lima pihak membuat hasil penelitian tidak sekadar berhenti sebagai laporan atau kajian akademik. Ia ingin riset tersebut diwujudkan menjadi inovasi yang berdampak pada peningkatan pelayanan publik, perekonomian warga, dan kesejahteraan daerah.
Forum tersebut juga dimanfaatkan untuk merapatkan hubungan kelembagaan antara BRIDA Konawe dengan perguruan tinggi dan pemangku kepentingan lain. Dengan kolaborasi yang lebih terarah, BRIDA Konawe diharapkan mampu menjembatani kebutuhan pembangunan daerah dengan potensi riset yang dimiliki kampus, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Alkadri menambahkan bahwa penguatan kerja sama ini semestinya melahirkan lebih banyak inovasi yang berbasis kebutuhan daerah dan berkelanjutan.
Pandangan senada datang dari Zubaidah Muchlisin, S.E., M.Si. Analis Kebijakan Muda di BRIDA Provinsi Sulawesi Tenggara itu menilai konsep Penta Heliks dengan lima unsur di dalamnya sangat penting untuk diterapkan. Ia menyatakan dukungan penuh dan berencana mengoordinasikan penerapannya dengan para pemangku kepentingan terkait, terutama Bupati Konawe atau Sekretaris Daerah. Zubaidah juga menegaskan akan menjalin koordinasi dengan BRIDA Konawe.
Dengan langkah tersebut, riset dan inovasi diharapkan tidak lagi berhenti sebagai aktivitas kelembagaan. Keduanya diproyeksikan menjadi instrumen penting untuk mendorong terwujudnya Konawe yang inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Sumber: sultranews.co.id






