Lutimterkini- Makassar — Lonjakan antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Makassar dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh perpindahan besar-besaran konsumen dari bahan bakar nonsubsidi ke bahan bakar subsidi. Perbedaan harga yang cukup lebar antara Pertamax dan Pertalite membuat banyak pengguna BBM nonsubsidi beralih mengisi Pertalite, sehingga terjadi penumpukan kendaraan yang mengular hingga ke badan jalan dan menimbulkan kemacetan di beberapa titik.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mengungkapkan bahwa disparitas harga menjadi akar persoalan ini. Ia menjelaskan bahwa selisih harga yang tinggi membuat konsumen yang sebelumnya membeli BBM nonsubsidi berpindah ke BBM bersubsidi, sehingga antrean yang tadinya terjadi di jalur nonsubsidi kini berpindah dan meningkat di jalur subsidi. Pernyataan itu disampaikan Andi Sudirman dalam keterangannya pada Senin (14/9).
Sebelumnya, Pertamina melalui Pjs Area Manager Communication, Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Okky Aditya Wibowo, sempat menyatakan bahwa situasi antrean turut dipengaruhi perilaku pembelian berlebihan atau panic buying. Menurut Okky, sebagian warga melihat antrean di SPBU lalu khawatir tidak kebagian BBM, sehingga mereka berbondong-bondong datang mengisi bahan bakar. Kondisi itu kemudian memunculkan anggapan bahwa stok BBM menipis. Meski demikian, Okky menegaskan bahwa persediaan BBM masih dalam kondisi aman dan cukup, serta distribusinya berjalan lancar.
Di sisi pasokan, Andi Sudirman menyebut terjadi kenaikan signifikan pada suplai BBM untuk wilayah Sulsel. Jika sebelumnya pasokan berada di kisaran 700 kiloliter (KL), kini dalam kondisi tertentu bisa mencapai 1.300 KL. Kendati begitu, penambahan pasokan dinilai belum sepenuhnya mengurai antrean karena permintaan ikut melonjak. Karena itu, ia mengusulkan agar Pertamina melakukan analisis terhadap dampak migrasi konsumen untuk menghitung berapa kuota BBM yang perlu ditambahkan ke Sulsel.
Pemerintah Provinsi Sulsel sendiri telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk meredam antrean. Melalui surat bernomor 670/2478/DESDM yang diteken Plt Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulsel, Kasman, diberlakukan sistem ganjil-genap bagi kendaraan yang mengisi BBM subsidi di semua SPBU mulai Sabtu (13/9). Motor dan mobil diizinkan mengisi BBM berdasarkan angka terakhir pada pelat kendaraan yang disesuaikan dengan tanggal pemberlakuan. Aturan ini dikecualikan bagi ojek online (ojol). Selain itu, Pemprov Sulsel menerapkan sekolah daring untuk mengurangi mobilitas siswa.
Kebijakan lain yang turut diberlakukan adalah pengaturan pengisian BBM bagi truk yang hanya dilayani pada malam hari, mulai pukul 21.00 Wita hingga 06.00 Wita, guna menghindari penumpukan pada jam operasional siang. Kendaraan pribadi juga hanya diperbolehkan mengisi BBM subsidi apabila indikator bahan bakar pada odometer menunjukkan 1 bar ke bawah. Langkah ini ditujukan untuk mencegah panic buying dan pengisian berulang. Andi Sudirman menegaskan bahwa kebijakan ganjil-genap dan sekolah daring bersifat sementara dan pelaksanaannya akan terus dievaluasi sesuai kondisi lapangan.
Menurut Andi Sudirman, aturan-aturan tersebut mulai menunjukkan hasil dan antrean di SPBU berangsur terurai. Namun ia menilai pasokan dan kuota BBM tetap harus menjadi perhatian serius. Dalam rapat evaluasi dan monitoring penanganan antrean BBM di Rujab Gubernur Sulsel pada Senin (14/9) yang dihadiri unsur Forkopimda Sulsel dan Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, ia mengusulkan penambahan kuota BBM sebesar 30 persen. Pemerintah daerah saat ini masih menunggu keputusan dari pemerintah pusat terkait usulan tersebut.
Andi Sudirman menambahkan bahwa seluruh kebijakan penanganan BBM di lapangan akan dicabut secara bertahap begitu pasokan kembali siap dan antrean dapat dikendalikan. Ia berharap situasi bisa segera normal kembali. Sementara itu, Pemprov Sulsel bersama Pertamina membuka layanan Modular SPBU di kawasan CPI Makassar mulai Senin (14/9). Tiga unit Modular SPBU beroperasi khusus melayani sepeda motor untuk pengisian BBM subsidi maksimal 3 liter per kendaraan. Warga yang ingin mengisi BBM dipersilakan datang ke kawasan CPI dengan menerapkan antrean yang tertib dan disiplin.
Sumber: detik.com






