Lutimterkini- Mamasa — Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Tabulahan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, akhirnya keluar. Dua sampel dinyatakan positif mengandung bakteri Staphylococcus Aureus. Temuan ini berkaitan dengan insiden keracunan yang menimpa 20 siswa di Kecamatan Tabulahan setelah menyantap menu MBG pada Senin (28/9).
Kepala Puskesmas Tabulahan, Iryana, membenarkan hasil pemeriksaan tersebut. Berdasarkan laporan yang diterimanya, dua sampel makanan terkonfirmasi mengandung bakteri jenis itu. Meski demikian, Iryana belum merinci sampel mana saja yang tercemar. Ia juga menolak menarik kesimpulan dini soal asal kontaminasi karena mata rantai penyebaran bakteri masih perlu ditelusuri lebih jauh.
Iryana menjelaskan, bakteri bisa saja berasal dari manusia yang lebih dulu terpapar, maupun dari proses penyimpanan makanan yang kurang higienis. Semua aspek itu, menurutnya, harus menjadi perhatian serius. Hasil uji laboratorium itu telah diserahkan kepada pengelola dapur SPPG untuk ditindaklanjuti. Langkah tegas pun diambil dengan menarik Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) milik SPPG tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Mamasa, dr Ratna Sari Dewi, menyebut ada beberapa faktor pemicu munculnya bakteri. Selain faktor manusia, kondisi lingkungan serta cara pengolahan makanan turut berperan. Ia menduga petugas yang kurang bersih, lingkungan yang tidak terjaga, atau makanan yang terlalu lama dibiarkan di suatu ruangan bisa menjadi celah tumbuhnya bakteri.
Ratna menegaskan, dapur SPPG bersangkutan baru boleh beroperasi kembali setelah proses pengelolaan makanan diperbaiki dan memenuhi syarat yang ditetapkan. Ia mengaku langsung berkoordinasi dengan Puskesmas Tabulahan agar mendatangi SPPG terkait. Koordinasi itu dilakukan untuk mencabut sertifikat SLHS, dan operasional akan dipulihkan setelah ada perbaikan.
Sebelumnya, Camat Tabulahan, Martina, mengungkapkan bahwa informasi awal soal penyebab keracunan ia terima dari guru di sekolah. Menurut keterangan guru tersebut, ada bagian ayam yang masih berwarna merah atau belum matang sempurna. Daging ayam itulah yang menjadi lauk dalam menu MBG hari itu. Dugaan sementara mengarah pada ayam yang kurang matang sebagai pemicu keracunan.
Insiden ini menimpa 20 siswa yang langsung mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan tersebut. Pemerintah daerah kini berada di bawah tekanan untuk memastikan keamanan pangan setiap dapur SPPG, terutama menjelang keberlanjutan program MBG. Perbaikan sanitasi dan pengawasan pengolahan makanan menjadi kunci agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
Sumber: detik.com






