Lutimterkini- Kendari — Neraca perdagangan Sulawesi Tenggara pada Agustus 2026 tetap membukukan surplus, tetapi nilainya kian menipis. Penyebab utamanya adalah lonjakan impor yang bergerak jauh lebih cepat ketimbang pertumbuhan ekspor. BPS Sultra melaporkan bahwa nilai pengiriman barang ke luar negeri pada Agustus 2026 mencapai US$342,86 juta, mengalami kenaikan 23,13 persen jika dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun sebelumnya, yaitu US$278,46 juta. Di sisi lain, impor melesat menjadi US$318,86 juta atau tumbuh 212,78 persen. Alhasil, surplus perdagangan daerah ini hanya menyisakan US$24 juta.
Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, mengungkapkan bahwa kendati ekspor tumbuh tinggi, laju impor yang jauh lebih besar telah menggerus kelebihan nilai perdagangan tersebut. Menurutnya, ekspor memang tergolong tinggi, tetapi impor juga sama tingginya. Ia menegaskan bahwa meski masih surplus, angkanya kecil, hanya US$24 juta, sehingga impor perlu ikut dikendalikan.
Peningkatan angka ekspor tersebut didukung oleh hasil tambang logam dasar berupa besi dan baja, yang di dalamnya termasuk ferronikel, dengan nilai US$335,46 juta atau bertambah 23,29 persen dari Agustus 2025. Meski begitu, dari sisi volume, ekspor nyaris tidak bergerak. Volume hanya bertambah 0,36 persen, yakni dari 206,23 ribu ton menjadi 206,98 ribu ton. Fakta ini memperlihatkan bahwa kenaikan nilai ekspor lebih banyak ditentukan oleh harga ketimbang jumlah barang yang dikirim.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sektor industri pengolahan menjadi tulang punggung ekspor dengan kontribusi 99,82 persen, atau setara US$2.654,03 juta dari total ekspor. Pasar utama masih dipegang Tiongkok dengan porsi 95,30 persen atau US$2.533,80 juta.
Dari sisi impor, kenaikan terjadi sangat signifikan pada sejumlah golongan barang. Kelompok barang berupa mesin dan peralatan mekanik penerbangan mengalami lonjakan sebesar 926,37 persen sehingga nilainya menjadi US$64,68 juta. Lompatan signifikan juga tercatat pada barang kebutuhan perlengkapan dan bahan bakar minyak (BBM).
Secara kumulatif Januari–Agustus 2026, tiga negara pemasok impor terbesar Sultra adalah Tiongkok dengan US$1.494,38 juta, disusul Singapura US$547,09 juta, dan Malaysia US$248,59 juta. Menurut klasifikasi jenis komoditas, bahan baku serta barang penolong menjadi penyumbang terbesar dalam impor, yakni mencapai 57,56 persen atau setara US$1.515,80 juta.
Hadi menjelaskan bahwa tingginya angka impor tidak serta-merta mencerminkan pelemahan ekonomi. Sebagian impor berkaitan dengan kebutuhan operasional dan produksi industri. Kendati demikian, ketimpangan laju ekspor dan impor tetap menjadi perhatian penting. Situasi tersebut menggambarkan dua sisi perdagangan Sultra: ekspor masih kuat karena sektor industri pengolahan, tetapi kenaikan impor yang jauh lebih pesat membuat surplus berada di level yang tergolong kecil.
Sumber: kendarinews.com






