Lutimterkini- Mamasa — Cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Barat dalam beberapa hari terakhir. Kabupaten Mamasa menjadi daerah yang paling parah terdampak, dengan 22 unit rumah dan sejumlah bangunan sekolah mengalami kerusakan. Sementara itu, tujuh rumah warga di Kabupaten Mamuju juga dilaporkan rusak akibat peristiwa serupa.
Di Mamasa, angin kencang pertama kali menerjang Kecamatan Aralle pada Jumat (25/9) sekitar pukul 15.45 Wita. Tiga desa menjadi lokasi terdampak, yakni Desa Uhailanu, Desa Uhaidao, dan Desa Ralleanak. Kepala BPBD Mamasa, Alfredi, mengungkapkan bahwa total kerusakan mencakup 18 rumah warga dan 4 bangunan sekolah. Rinciannya, di Desa Uhailanu terdapat 4 rumah rusak berat dan 5 rusak ringan. Desa Uhaidao mencatat 2 rumah rusak berat dan 4 rusak ringan, sedangkan Desa Ralleanak mengalami 2 rumah rusak berat serta 1 rumah rusak ringan.
Empat fasilitas pendidikan yang turut terdampak adalah MTS Uhaidao, SDS Kurasa, SD 03 Ralleanak, dan MI Uhaidao. Menurut Alfredi, kerusakan pada bangunan sekolah umumnya terjadi pada bagian atap yang terlepas akibat tiupan angin. Bencana ini dilaporkan berdampak pada 18 keluarga yang terdiri dari 72 jiwa. Warga yang rumahnya rusak parah memilih mengungsi ke kediaman kerabat mereka. Beberapa di antaranya bahkan mengalami kerusakan akibat tertimpa pohon tumbang.
Kepala Desa Uhaidao, Ali, menceritakan bahwa angin kencang datang setelah hujan deras mengguyur wilayahnya selama beberapa jam. Ia menyebut sudah dua hari terakhir hujan turun sejak pukul dua siang hingga sore, dan setelah itu barulah angin kencang menerjang.
Dampak paling serius dirasakan oleh MTs Uhaidao. Kepala sekolah, Asbadiun, menyatakan bahwa empat ruangan kelas di sekolahnya mengalami kerusakan. Dua ruangan di antaranya tergolong paling parah karena separuh atapnya terbawa angin, plafon roboh akibat air, dan dinding rusak terkena reruntuhan. Akibatnya, sebanyak 72 siswa terpaksa mengikuti proses belajar mengajar di tenda sebagai ruang kelas darurat. Asbadiun menjelaskan bahwa pihaknya belum menemukan tempat lain untuk memindahkan kegiatan belajar. Jika tidak ada ruang kelas yang bisa dipinjam, ruang terbuka akan dijadikan lokasi pembelajaran sementara.
Menurut Asbadiun, kerasnya tiupan angin membuat puluhan lembar atap seng sekolah terlepas dan terbang hingga sekitar 100 meter dari bangunan. Ia mengisahkan awalnya hujan tidak terlalu deras, namun sekitar setengah jam kemudian angin kencang datang bersamaan dengan hujan yang semakin lebat.
Sementara itu, di Kabupaten Mamuju, angin kencang merusak tujuh rumah warga. Peristiwa ini terjadi sekitar empat hari setelah bencana serupa melanda Mamasa. Kepala Pelaksana BPBD Mamuju, Muh Taslim Sukirno, menyampaikan bahwa rumah-rumah terdampak tersebar di tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Rimuku, Simboro, dan Mamunyu. Dari tujuh rumah tersebut, terdapat 8 kepala keluarga dengan total 17 jiwa yang terdampak.
Taslim menambahkan bahwa rumah yang rusak berada di kawasan pesisir pantai dan wilayah dataran tinggi, dengan kategori kerusakan ringan hingga sedang. Saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan pasti terhadap rumah-rumah yang terdampak. Setelah asesmen selesai dan dimasukkan ke dalam data, bantuan akan disalurkan dengan menyesuaikan anggaran yang tersedia. Taslim memastikan bahwa begitu anggaran tersedia, pihaknya akan segera mencairkan bantuan bagi warga yang membutuhkan.
Sumber: detik.com






