Lutimterkini- Gowa — Hari ke-10 pencarian lima jurnalis yang hilang saat meliput erupsi Anak Gunung Krakatau bersama tiga awak kapal cepat masih belum membuahkan hasil. Kelima jurnalis tersebut masing-masing M Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni seorang jurnalis lepas. Tiga kru kapal yang turut hilang yakni Surahman selaku kapten atau nakhoda, Sukarman sebagai ABK, serta Heriyanto sebagai pemandu.
Merespons situasi tersebut, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Selatan menggelar doa bersama di Istana Balla Lompa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis malam. Kegiatan itu disertai dengan menyalakan lilin harapan. Ketua IJTI Sulsel Andi Muhammad Sardi menyatakan bahwa doa bersama ini menjadi wujud dukungan dari jurnalis di Sulsel terhadap rekan-rekan mereka yang masih dalam proses pencarian oleh tim SAR.
Pria yang akrab disapa Idho itu menambahkan, meskipun tim pencarian terus berjuang hingga hari kesepuluh, pihaknya tetap berharap korban dapat ditemukan secepatnya. Ia juga berpesan agar keluarga korban senantiasa diberi kekuatan menghadapi situasi ini.
Dalam kesempatan itu, Idho kembali menyoroti pentingnya protokol keselamatan bagi jurnalis. Menurutnya, aspek tersebut menjadi hal krusial ketika menjalankan tugas jurnalistik, terutama saat meliput bencana baik di darat, laut, maupun udara. Jurnalis televisi SCTV itu menegaskan bahwa dirinya tidak pernah lelah mengingatkan rekan-rekan agar mengutamakan safety protocol saat meliput bencana. Ia menekankan tidak ada berita yang nilainya melebihi nyawa seseorang.
Lebih lanjut, Idho menuturkan bahwa dalam kondisi liputan bencana, pertimbangan keamanan dan keselamatan harus dipikirkan secara matang sejak penugasan diberikan oleh kantor media. Koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan, juga diperlukan. Selain itu, penting untuk memitigasi medan dan memetakan situasi di lokasi kejadian.
Ia juga menyoroti tanggung jawab perusahaan pers. Menurutnya, perusahaan media perlu berbenah dengan mempertimbangkan tingkat risiko ketika menugaskan jurnalis ke wilayah bencana. Di sisi lain, setiap jurnalis yang meliput di medan bencana harus tetap mengedepankan kehati-hatian, kewaspadaan, serta memprioritaskan keselamatan diri sendiri.
Idho berharap peristiwa ini dapat menjadi refleksi bagi rekan-rekan jurnalis untuk melihat persoalan secara lebih mendalam. Ia mengajak semua pihak belajar dari kejadian tersebut sebagai pengalaman berharga dalam melindungi diri saat meliput bencana, dan berharap tidak ada lagi peristiwa serupa di masa mendatang.
Doa bersama tersebut turut dihadiri Kapolresta Gowa Kombes Pol Muhammad Yusuf Usman beserta jajarannya, akademisi UMI Makassar Zakir Sabara, dan sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Koalisi Advokasi Jurnalis (KAJ) Sulsel. Kapolres menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk keprihatinan dan belasungkawa terhadap para jurnalis yang sebelumnya menjalankan tugas peliputan erupsi Anak Gunung Krakatau hingga mengorbankan jiwa dan raga.
Ia pun berpesan kepada para jurnalis agar selalu mengutamakan keselamatan dalam menjalankan tugas. Kapolres mengingatkan bahwa potensi bahaya yang mengancam jiwa bisa muncul kapan saja saat meliput. Ia juga mengapresiasi kolaborasi antara IJTI Sulsel dan Polresta Gowa dalam menggelar doa bersama tersebut.
Sumber: antaranews.com






