Oleh: Ibriansyah Irawan, Ketua DPD KNPI Luwu Timur/Alumni Magister Manajemen UM Palopo
Lutimterkini- Saat memperkenalkan diri di satu pertemuan informal bersama teman-teman dari daerah lain, saya menyebutkan bahwa kampung saya berasal dari Luwu Timur, sontak beberapa teman memberi respons “Wah berarti kamu tidur di atas bebijian Nikel dong?” Julukan itu sangat konteks dengan kondisi Luwu Timur. Kekayaan alam seperti Nikel, menjadikan Luwu Timur kini berada di peringkat kedua dalam realisasi investasi terbesar di Sulawesi Selatan, hanya sedikit ketinggalan di bawah Kota Makassar.
Sebagian besar dari angka investasi itu datang dari sektor tambang, yang belakangan tak hanya berorientasi ekspor bahan mentah, tetapi mulai mengarah ke hilirisasi. Pemerintah pusat kini mendorong hilirisasi nikel sebagai bahan baku industri baterai listrik, baja tahan karat, hingga produk turunan lainnya. Di sinilah wacana besar Kawasan Industri Luwu Timur tengah berjalan. Memanfaatkan cadangan nikel Luwu Timur yang sangat besar, menurut data Badan Geologi, termasuk salah satu terbesar di Indonesia.
Di tengah gegap gempita itu, satu pertanyaan serius yang harus berani kita dorong adalah : “Masyarakat Luwu Timur dapat apa?”Pertanyaan itu sangat wajar, karena pengalaman di banyak daerah menunjukkan, kehadiran kawasan industri sering kali tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Sementara pemerintah pusat sudah mengumumkan Luwu Timur sebagai salah satu lokasi strategis untuk pengembangan kawasan industri berbasis nikel. Pemerintah bahkan menyiapkan beberapa perusahaan untuk menjadi pionir, seperti PT IHIP (Indonesia Huabao Industrial Park) yang berencana membangun kawasan industri terintegrasi dengan smelter nikel di Malili. Ada pula PT KIT Luwu Timur yang juga disebut dalam beberapa dokumen Kementerian terkait. Nilai investasi yang disebut-sebut mencapai ratusan triliun rupiah, dengan target kawasan industri yang akan memproses ratusan ribu ton nikel per tahun.
Dari perspektif saya, Kawasan Industri Luwu Timur memang membawa peluang besar. Industri pengolahan nikel akan membuka lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, dan menciptakan ekosistem industri turunan yang lebih kompleks. Bayangkan, jika hilirisasi berjalan, Luwu Timur tak hanya mengekspor bijih nikel, tetapi memproduksi bahan baku baterai kendaraan listrik, stainless steel, hingga produk-produk lain yang nilainya jauh lebih tinggi. Ini bisa membawa multiplier effect yang luar biasa. Lalu apakah masyarakat Luwu Timur hanya akan jadi penonton dan hanya mendapatkan debu dan polusi?
Pertumbuhan ekonomi Luwu Timur memang tercatat tinggi, 9,66 persen pada 2023, dan tumbuh 3,14 persen kumulatif hingga Triwulan III tahun 2024. Tapi kenyataan di lapangan, belum semua warga benar-benar merasakan manfaat langsung dari pertumbuhan itu. Padahal, tambang di sini beroperasi tanpa henti. Data sempat mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Luwu Timur melampaui lima persen pada 2023, dan berhasil turun sedikit pada 2024. Ini menjadi pertanyaan besar: industri tambang sibuk berproduksi, investasi miliaran rupiah terus masuk, tetapi lapangan kerja yang layak bagi masyarakat lokal masih fluktuatif, artinya belum benar-benar tercipta secara merata dan konsisten bertambah, apalagi bagi wilayah di luar pemberdayaan lingkar tambang.
Perlu diakui, beberapa perusahaan tambang sudah mulai melibatkan tenaga kerja lokal. Misalnya PT Vale Indonesia, yang melaporkan lebih dari separuh pekerjanya di blok Sorowako adalah warga Luwu Timur. Selain itu, ada juga pelatihan vokasi untuk melatih masyarakat menjadi operator alat berat atau teknisi tambang. Namun harus diakui, langkah-langkah ini masih terbatas. Jika kita melihat keseluruhan industri tambang di Luwu Timur, posisi-posisi penting masih banyak didominasi tenaga kerja dari luar daerah.
Saya percaya persoalan ini bukan sekadar soal siapa yang lebih pintar atau lebih berpengalaman. Masalahnya adalah siapa yang diberikan kesempatan dan pembekalan. Masyarakat kita, terutama generasi muda, sebenarnya memiliki potensi besar. Banyak anak muda Luwu Timur yang cerdas, rajin, dan siap bekerja keras. Yang mereka perlukan adalah akses pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri, serta peluang kerja yang adil. Jika tidak diberikan ruang, kita akan terus mengulang pola lama: tambang ramai, tapi rakyat hanya menjadi penonton di tanah sendiri.
Pembicaraan tentang keterlibatan masyarakat lokal tidak bisa berhenti pada tenaga kerja saja. Ada satu hal lain yang sama pentingnya, yakni keterlibatan kontraktor lokal. Hari ini, sebagian besar proyek besar di industri tambang masih dikerjakan oleh kontraktor nasional. Bukan berarti kita menolak kehadiran pihak luar. Tetapi kalau benar kita ingin tambang menjadi pendorong ekonomi daerah, maka kontraktor lokal harus menjadi bagian dari ekosistem industri ini.
Mengapa keterlibatan kontraktor lokal sangat penting? Pertama, agar perputaran ekonomi tidak lari keluar daerah, melainkan berputar di Luwu Timur. Kedua, kontraktor lokal jauh lebih memahami kondisi geografis, sosial, dan budaya setempat, sehingga bisa bekerja lebih efektif dan lebih cepat beradaptasi. Ketiga, saat kontraktor lokal tumbuh, mereka akan membuka banyak lapangan kerja tambahan bagi warga sekitar, mulai dari pekerja lapangan hingga tenaga administrasi. Artinya, keterlibatan kontraktor lokal bukan hanya soal keadilan, tetapi juga strategi pembangunan ekonomi berbasis masyarakat.
Fasilitas kemitraan antara kontraktor lokal dengan perusahaan besar harus terbuka luas, supaya terjadi transfer pengetahuan dan teknologi. Dengan begitu, kontraktor lokal bukan hanya jadi subkontraktor kecil, tapi bisa naik kelas dan menjadi pemain utama di proyek-proyek besar.
Tambang juga bukan hanya urusan ekonomi. Ada persoalan sosial dan lingkungan yang tidak boleh dilupakan. Kita sudah beberapa kali mendengar cerita bagaimana tambang berkonflik dengan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Masyarakat lokal harus diberi ruang untuk terlibat dalam pengawasan lingkungan, bukan hanya sebagai pekerja, tetapi juga sebagai mata dan telinga yang memastikan industri tambang berjalan dengan cara yang benar dan bertanggung jawab.
Sebagai anak daerah, saya bermimpi Luwu Timur tidak hanya dikenal karena banyaknya tambang, tetapi juga karena masyarakatnya yang maju, terampil, berdaya saing dan sejahtera. Mari kita pastikan bahwa “Ramai Tambang di Luwu Timur” bukan hanya cerita angka-angka besar di laporan investasi, tetapi benar-benar menjadi kisah kebangkitan rakyatnya. Karena tambang seharusnya ada untuk menyejahterakan manusia secara merata. Tambang di Luwu Timur tidak boleh hanya menghasilkan nikel, tetapi harus menghasilkan masa depan yang lebih baik bagi masyarakatnya. ( Lt sps/ opn)






