Lutimterkini- Wilayah pesisir di desa Pasi-Pasi kecamatan Malili, Luwu Timur kini makin hijau dan nampak tertata rapi. Ribuan anakan mangrove (pohon bakau) yang ditanam oleh PT Vale sejak 26 Juli 2025 lalu, menjadi penopang kokohnya wilayah pesisir di Pasi-Pasi.
“ Alhamdulilah, kami makin bersemangat setelah ribuan anakan mangrove di wilayah kami tumbuh seperti harapan. Semangat melaut, dan ikan-ikan kembali terlihat di sekitar wilayah pesisir karena tumbuhnya pohon Bakau yang dilakukan PT vale dan penggiat lingkungan beberapa waktu lalu,” ungkap Sykuri warga pesisir di Pasi- Pasi, saat disambangi Lutimterkini.com, Sabtu (22/11/2025).
Menghiaukan pesisir dengan menanam Mangrove adalah upaya penting karena mangrove berfungsi sebagai benteng alami untuk melindungi pantai dari abrasi dan ombak, habitat penting bagi keanekaragaman hayati laut, serta berperan dalam mitigasi perubahan iklim dengan menyerap karbon.
Kepala desa Pasi-Pasi, Yusuf Saman menparesiasi langkah PT Vale dan stakeholders lainnya untuk menghijaukan kembali wilayah pesisir desanya dan sejumlah titik lain guna menjaga wilayah pesisir dari abrasi dan pelindung alami. “ Mangrove menjadi habitat penting untuk ikan, kepiting, dan spesies laut lainnya untuk berlindung, mencari makan, dan berkembang biak. Ekosistem ini juga mendukung ekonomi masyarakat pesisir, khususnya di wilayah kami. Saya kira gerakan penanamn mangrove di daerah pesisir lainnya memang harus digencarkan,” imbuh Yusuf.
Sekadar dikethaui, Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia, namun lebih dari 50 persen luasnya telah mengalami degradasi. Di kawasan pesisir Malili, hasil kajian ekologis PT Vale tahun 2022 mengungkap data yang mengkhawatirkan:
. Terumbu karang sehat hanya tersisa 30,96 hektare dari total 111 hektare. Ekosistem lamun tersisa hanya 0,88 hektare. Hutan mangrove masih ada sekitar 647 hektare, namun dengan kepadatan yang sangat rendah dan fungsi ekologi yang menurun drastis.
Padahal, mangrove dikenal mampu menyerap karbon 3 hingga 5 kali lebih banyak dari hutan darat tropis, serta melindungi pesisir dari abrasi dan badai. Hilangnya fungsi ini berarti hilangnya perlindungan bagi masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada laut untuk penghidupan dan ketahanan pangan.
“Kondisi ini adalah alarm. Jika ekosistem pesisir rusak, maka bukan hanya lingkungan yang terdampak, tapi juga ekonomi masyarakat dan harapan untuk pertumbuhan inklusif,” ujar Direktur Hubungan Eksternal PT Vale, Yusri Yunus.
Selain itu, emiten pertambangan Nikel ini melakukan restorasi bawah laut dengan menurunkan 50 struktur transplantasi terumbu karang (spider) dan membangun 20 rumah karang (nursery) di titik kritis kawasan Mangkasa Point. Kegiatan ini melibatkan Sorowako Diving Club (SDC), TNI AL Lantamal VI Makassar, perwakilan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, Yayasan Konservasi Cinta Laut Indonesia (YKCLI), dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar.
Penanaman mangrove bukan kali ini saja dilakukan oleh PT Vale, melainkan aktivitas yang konsisten sebagai bagian dari komitmen pada penerapan praktik pertambangan berkelanjutan yang sejalan dengan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST) atau Environment, Social, and Governance (ESG).
Sebelumnya, PT Vale juga telah melaksanakan penanaman 1.000 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata dan Rhizophora aviculata sebagai bagian dari Aksi Iklim dalam rangka memperingati Hari Ozon Sedunia. Kegiatan tersebut digelar di Desa Pasi-Pasi Malili, Luwu Timur, pada 28 September, yang dirangkaikan dengan pelepasan kepiting bakau.
Setelah kurang lebih empat bulan, kami dan beberapa penggiat lingkungan melihat langsung ke lokasi penanaman untuk memastikan kondisi bibit Bakau yang sudah ditanam tersebut. Hasilnya sangat memuaskan karena wilayah pesisir Pasi-Pasi kembali hijau dengan Mangrove.
Hampir semua bibit bakau atau mangrove yang ditanam itu sudah tumbuh dengan baik dan ada yang sudah setinggi orang dewasa. “ Kami mengapresiasi semua upaya untuk mendorong gerakan pelestarian lingkungan, mencegah terjadinya abarsi di wilayah pesisir melalui penanaman mangrove. Upaya ini harus konsisten demi merawat lingkungan di wilayah pesisir bersama semua elemen,” pinta Madras salah seorang penggiat lingkungan di Luwu Timur. (Lt/sps/acs)






