Lutimterkini- Palu — Pimpinan Pusat Muhammadiyah bakal menggelar forum Tanwir berbarengan dengan peringatan Milad ke-114 organisasi itu di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada 13–15 November 2026. Agenda besar tersebut mengangkat tema “Bersama Satukan Bangsa”, sebuah seruan kebangsaan yang hendak memperkuat persatuan, menjaga keberagaman, dan mendorong Indonesia terus melaju.
Prof. Dr. H. Rajindra, SE., MM, yang memimpin kepanitiaan penerimaan Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah, memaparkan bahwa pemilihan tema bukan sekadar formalitas. Menurut dia, persatuan mesti dipahami sebagai upaya kolektif yang wajib dirawat terus-menerus oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya harapan yang dibiarkan menggantung. Hal itu disampaikannya pada Selasa (13/10/2026).
Guru besar yang juga menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu ini menekankan bahwa masyarakat Indonesia hidup dalam keragaman suku, agama, budaya, dan pandangan. Karena itu, kesadaran bersama perlu ditumbuhkan agar tercipta Indonesia yang damai, adil, dan berkemajuan. Menurut dia, perbedaan bukan penghalang, melainkan modal untuk membangun negeri.
Rajindra menambahkan, semangat menyatukan bangsa itu selaras dengan ajaran Islam, khususnya yang termaktub dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 dan 13. Nilai-nilai tersebut, katanya, menjadi landasan moral bagi Muhammadiyah dalam menggelar hajatan besar di Sulawesi Tengah itu.
Kota Palu dipilih sebagai tuan rumah, dan seluruh rangkaian kegiatan bakal berlangsung selama tiga hari. Forum Tanwir sendiri merupakan salah satu mekanisme permusyawaratan penting di lingkungan Muhammadiyah, sementara Milad menjadi momen refleksi perjalanan organisasi yang telah berdiri lebih dari satu abad.
Panitia penerimaan menyatakan kesiapan menyambut peserta dari berbagai daerah. Mereka berharap gelaran ini tidak hanya menjadi rutinitas organisasi, tetapi juga memberi dampak nyata bagi penguatan kebangsaan dan kemajuan masyarakat, khususnya di Sulawesi Tengah.
Melalui tema yang diusung, Muhammadiyah ingin menegaskan posisinya sebagai kekuatan moral yang konsisten merawat kebinekaan. Seruan “Bersama Satukan Bangsa” diharapkan menggema tidak hanya di ruang sidang, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari warga.
Sumber: sultengraya.com






