OLEH : MUDZAKKAR NB
PENGAJAR : PADA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ANDI DJEMMA PALOPO
——————————————————————————–
Luwu memainkan peran yang sangat signifikan –bahkan pertama-dalam penyebaran kabar proklamasi di Sulawesi.
Kabar Proklamasi Paling Awal di Sulawesi
Tepat 19 Agustus 1945, dua hari setelah Soekarno membacakan proklamasi di Jakarta, kabar kemerdekaan sudah sampai di Luwu. Ini lebih dulu dari Makassar
Andi Achmad, seorang pemuda Luwu, mendapat keterangan dari Sakata, perwira intelijen Jepang sekaligus kepala Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Rahasia) pelabuhan Palopo. Sakata sebenarnya sering membuka rahasia kekalahan Jepang kepada anggota kelompok band mereka, Hawaian dengan nama samara Wakaki Cikara.
Malam harinya, sekitar pukul 04.00 WIB, Sakata dan kawan-kawan-Wim Poli, Rudhy Kamph, Ani Assa, Bram Hitaria, dan lainnya-sibuk membuat pamplet proklamasi. Isi pamfletnya sederhana : “Soekarno Hatta telah mengumumkan kemerdekaan Indonesia”. Penduduk Muslim sedang sahur, para pemuda menempelkan pamflet di dinding kantor, tembok, pagar, dan pohon-pohon di sepanjang jalan palopo. Pagi 18 Agustus, warga Palopo tersentak membaca pamplet itu. Berita menyebar ke seluruh pelosok Luwu melalui masjid, pasar, dan rumah-rumah.
Gerak Cepat Pemuda Luwu
Malam 19 agustus 1945, tujuh pemuda nasionalis rapat rahasia di rumah M. Yusuf Arief, dekat istana Luwu. Mereka membentuk organisasi perjuangan bernama Sukarno Muda. Kerajaan Luwu under Datu Andi Djemma memberi restu dan mengirim utusan ke Makassar : M. Sanusi Dg. Mattata dan Andi Makkulau Opu Daeng Parebba. Pada 27 Agustus 1945, keduanya menemui Dr. G.S.S.J. Ratulangi di Empress Hotel, Makassar. Dr. Ratulangi mengonfirmasi kebenaran proklamasi 17 agustus 1945 serta menjelaskan struktur pemerintahan RI baru-PPKI, UUD 1945, delapan provinsi termasuk Sulawesi, dan pembentukan BKR (Badan Keamanan Rakyat).
Perlawanan 23 Januari 1946
Ketegangan memuncak saat pasukan NICA-Belanda hadir kembali. Pemicu utamanya : pada 21 Januari 1946, tentara Belanda merusak Masjid Jami’ di Palopo. Kemarahan rakyat meledak 23 Januari 1946, rakyat Luwu Pimpinan Datu Andi Djemma melakukan perlawanan semesta(perang sabbeta ra’ye) melawan NICA. Ini bukan sekedar penyerangan biasa –rakyat Luwu berperang sepanjang garis dari 200 km. Persenjataan terbatas, tidak berpengalaman militer, tapi semangat perjuangan sangat tinggi. Mereka bergelar Pusat Keselamatan Rakyat (PKR). Letnan Tupang, komandan Belanda di Palopo, meneror para gerilyawan dengan kekejaman. Namun ketidakamanan di Sulawesi Selatan terus berlanjut hingga Belanda mendatangkan Pasukan Baret Hijau pimpinan Kapten Raymond Westerling.
Andi Djemma : Raja yang Memilih Republik
Andi Djemma (1901-1965), Datu Luwu ke-6, adalah tokoh sentral. Ia bukan hanya bangsawan-ia juga pendiri NU di Sulawesi Selatan dan memadukan nilai Islam dengan nasionalisme secara erat.
Setelah Declaratie van Jongaya (15 Oktober 1945), dimana para pemimpin Sulawesi Selatan menyatakan setia pada RI, sikap anti-kompromi Andi Djemma terhadap Belanda membuatnya “dicopot” sebagai Arumpone (Datu) pada 1947 dan diasingkan ke Rantepao, Tana Toraja. Perlawanan rakyat Luwu 23 Januari 1946 ini kemudian dikenang sebagai salah satu episode keberanian paling luar biasa di Sulawesi Selatan-membuktikan bahwa revolusi bukan hanya terjadi di Jawa, tapi juga digugat dengan heroik di tanah Luwu.
Andi Djemma : Raja Luwu
Pendiri NU Sulsel, Sang Datu yang Menolak Takluk Pada Penjajah
Dalam Sejarah kemerdekaan Indonesia, nama H. Andi Djemma menempati tempat terhormat. Ia bukan sekedar bangsawan atau penguasa lokal, melainkan seorang Datu Luwu yang menjadikan Islam dan nasionalisme sebagai senjata melawan penjajahan. Sebagai pendiri Nahdatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan, Andi Djemma memperlihatkan bahwa perlawanan terhadap penjajah tidak hanya lahir dari rakyat biasa, tetapi juga dari kalangan bangsawan yang menolak tunduk pada kekuasaan kolonial.
Dari Datu Luwu Menjadi Pejuang Rakyat
Lahir dari keluarga bangsawan Luwu, Andi Djemma dibesarkan dengan tradisi kepemimpinan dan tanggung jawab besar terhadap rakyatnya. Ketika Belanda kembali berusaha menguasai Indonesia pasca Proklamasi 1945, ia tidak tinggal diam. Sebagai Raja atau Datu Luwu hingga masa kemerdekaan, Andi Djemma memimpin rakyatnya melawan upaya penjajahan Belanda yang ingin menegakkan kembali kekuasaan di tanah Sulawesi Selatan. Antara tahun 1946-1948, ia memimpin perlawanan bersenjata bersama laskar rakyat dan tokoh Islam setempat.
NU Sulsel dan Perlawanan Berbasis Islam
Selain dikenal sebagai pemimpin politik dan militer, H. Andi Djemma juga memiliki peran penting dalam dakwah dan pendidikan Islam. Ia tercatat sebagai pendiri Nahdatul Ulama (NU) Sulawesi Selatan, menjadikan organisasi ini sebagai wadah perjuangan umat dan alat konsolidasi moral rakyat melawan penjajahan. Dibawah bimbingannya, nilai-nilai keislaman menjadi pendorong perjuangan. Islam bukan hanya identitas spiritual, tapi juga ideologi pembebasan yang membangkitkan semangat melawan penjajahan.
SELAMAT ULANG TAHUN KEMERDEKAN 1945-2026
MERDEKA…!….!….!






