Lutimterkini- Perusahaan pertambangan Nikel PT Prima Utama Lestari (PUL) yang beroperai di desa Ussu kecamatan Malili dinilai belum layak untuk memulai aktivitas dalam operasionalnya. Selain tidak dilengkapi alat pelindung diri (APD) dalam bekerja, juga masih banyak karyawannya yang mengenakan baju seragam milik perusahaan lain.
Sekadar diketahui bahwa, operasional penambangan milik PT PUL di desa Ussu saat ini dikelola oleh PT Natural Persada Mandiri (PT NPM) dan baru sekitar sebulan kembali beroperasi.
Dari pantauan Lutimterkini.com, pada Minggu dan Senin (21-22/12/2025) di area operasional PT NPM, sejumlah karyawannya mengenakan seragam atau baju milik perusahaan lain. “ Benar pak, kami melihat langsung karyawan PT NPM pengelola tambang PT PUL bagian flagman mengenakan baju PT Vale. Ada juga yang mengenakan baju perusahaan milik PT Magatti,” kata Angga warga Malili.
Yang lebih miris lagi kata Ridwan, warga Malili lainnya mengungkapkan sejumlah karyawan PT NPM juga tidak dilengkapi alat pelindung diri (APD) saat bekerja seperti kacamata dan alat safety lainnya.” Pekerjaan di tambang itu berisiko. Kewajiban bagi pihak perusahaan PT PUL dan PT NPM untuk menyiapkan alat kelengkapan safety bagi seluruh karyawannya,” imbuh keduanya.
Dikonfirmasi terkait hal ini, penangung jawab operasional (PJO) PT NPM, Yordi, mengakui bahwa pihaknya akan membenahi kekurangan di lapangan. “ Iya pak, kami kan baru beroperasi dan masalah APD kami sudah bagikan rompi, helmet sementara karena proses penjahitan seragam pak. Di waktu mendatang kami akan mencoba melakukan evaluasi lagi kepada seluruh karyawan,” ujar Yordi.
Untuk diketahui, PT PUL saat ini tengah melakukan aktivitas pertambangan di blok 3 areal jalan Maroangin dengan kuota RKAB yang diberikan pemerintah sebanyak 600 ribu ton untuk tahun 2025. Dalam operasionalnya ini, hanya ditunjang satu sediment pond dan dilengkapi tiga kompartemen. (Lt/sps/acs).






