Lutimterkini- Jakarta — Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, Glenn Nathaniel Pandelaki, secara resmi membuka kegiatan Capacity Building Keprotokoleran, Kehumasan, Aparat Penegak Hukum (APH), dan Media di Jakarta. Forum tersebut dirancang guna menyelaraskan pemahaman antar lembaga sekaligus mempererat kerja sama lintas sektor demi mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tengah.
Glenn dalam kesempatan itu menekankan bahwa setiap lembaga perlu memahami peran dan tugasnya secara tepat. Ia juga menyoroti pentingnya meluruskan sejumlah misinformasi yang beredar di tengah masyarakat mengenai posisi Bank Indonesia. Menurutnya, BI merupakan lembaga negara yang independen dan tidak berorientasi mencari keuntungan, berbeda dengan bank umum yang menjalankan fungsi menghimpun dana masyarakat serta menyalurkan kredit.
Lebih jauh Glenn menjelaskan, tugas BI bukan sekadar menjaga stabilitas moneter. Bank sentral juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, membuka lapangan kerja, serta memperkuat sektor riil lewat Program Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan (EPML). Selain stabilitas nilai rupiah, BI turut memastikan sistem pembayaran dan sistem keuangan tetap stabil.
Di tingkat daerah, BI Sulawesi Tengah disebutnya terus menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait untuk menekan inflasi. Strategi yang dijalankan mencakup 4K, yakni Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.
Pada aspek digitalisasi, perkembangan sistem pembayaran seperti QRIS di Sulawesi Tengah tercatat tumbuh signifikan. Penerapannya merambah sektor transportasi, pajak daerah, hingga retribusi kebersihan terintegrasi berbasis KTP yang dikenal dengan nama Pakasi di Kota Palu.
Melalui kegiatan capacity building tersebut, BI Sulawesi Tengah berharap seluruh mitra strategis, baik dari unsur APH, media, kehumasan, maupun protokoler, mampu terus mengasah kompetensi dan memperkuat kolaborasi.
Sumber: sultengraya.com






