Lutimterkini- Makassar — Pemerintah Kota Makassar sedang menjajaki pengolahan air laut menjadi air siap minum bagi warga di Kecamatan Kepulauan Sangkarrang. Teknologi yang akan dipakai berbasis desalinasi dengan tenaga matahari. Wali Kota Makassar Munafri ‘Appi’ Arifuddin menyatakan bahwa program ini dirancang sebagai solusi berkelanjutan agar warga pulau bisa menikmati air bersih secara mandiri dengan memanfaatkan energi surya. Ia menegaskan pihaknya ingin menghadirkan layanan air yang langsung bisa diminum bagi masyarakat kepulauan.
Persoalan air bersih di wilayah kepulauan itu, kata Appi, sudah berlangsung puluhan tahun dan tidak merata. Sejumlah pulau bahkan masih harus mendatangkan air dari daratan Makassar untuk keperluan sehari-hari. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah kota. Appi menilai air bersih bukan hanya dibutuhkan untuk konsumsi, melainkan juga untuk mandi, memasak, mencuci, dan menunjang sanitasi keluarga.
Untuk mengolah air laut menjadi air tawar yang sesuai standar air minum, teknologi yang dipilih menggunakan sistem Reverse Osmosis (RO). Sumber tenaganya memanfaatkan energi matahari. Appi menambahkan bahwa tujuan akhirnya adalah memastikan warga di pulau memperoleh layanan air bersih yang setara dengan yang dinikmati warga di kota.
Langkah awal yang disiapkan adalah survei di Pulau Langkai, Lumu-Lumu, Bonetambung, dan Barrang Lompo. Survei ini untuk meninjau kesesuaian program dengan kondisi geografis sekaligus kebutuhan air bersih warga setempat. Tim dari PT Prolink Intidata Nusantara dijadwalkan berangkat ke pulau untuk memeriksa apakah teknologi yang ditawarkan cocok dengan kondisi maupun kontur pulau yang dimiliki.
Program ini juga melibatkan Camat Sangkarrang, Dinas Pekerjaan Umum, dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Appi menyebut keterlibatan sejumlah pihak itu penting agar teknologi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Ia mengaku ingin mendengar masukan detail, karena itu ia mengajak camat, kepala dinas PU, dan direktur PDAM untuk memastikan apakah teknologi tersebut bisa dipakai, cocok, dan memang dibutuhkan masyarakat pulau.
Dari sisi kapasitas, teknologi ini disebut mampu memproduksi sekitar 250 liter air per jam. Sekitar 30 persen dari air yang diproses berubah menjadi air hasil desalinasi, sedangkan sisanya berupa air dengan kadar garam lebih tinggi. Appi menambahkan bahwa pihaknya masih akan memastikan kualitas air hasil pengolahan, kapasitas produksi, kebutuhan energi, serta kesesuaian teknologi dengan kondisi masing-masing pulau.
Soal pembiayaan, Pemerintah Kota Makassar berencana mengupayakan program ini masuk dalam anggaran pokok 2027. Namun penganggaran itu masih akan menyesuaikan hasil survei dan kesiapan teknis di lapangan. Appi berharap program ini menjadi langkah awal memperkuat pelayanan air minum bagi masyarakat di enam pulau berpenghuni, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan sampai ke wilayah kepulauan terluar Makassar.
Sumber: detik.com






