Lutimterkini- Makassar — Universitas Muslim Indonesia (UMI) menempati urutan ketujuh dari 13 perguruan tinggi di Sulawesi berdasarkan jumlah guru besar terbanyak. Kampus swasta yang berbasis di Kota Makassar itu kini memiliki 117 profesor. Data tersebut merujuk pada infografik yang diperoleh pihak universitas.
Rektor UMI, Hambali Thalib, menyatakan rasa syukur atas perhatian dan kepercayaan masyarakat selama ini. Ia mengaku senang melihat perkembangan capaian tersebut. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pembenahan internal akan terus dijalankan.
Hambali menyadari UMI masih menyimpan sejumlah kekurangan dan perlu banyak belajar. Menurutnya, hal terpenting bukanlah jumlah profesor yang dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat ilmu para guru besar itu bagi mahasiswa dan masyarakat luas.
Capaian tersebut, lanjut Hambali, tidak lepas dari kontribusi banyak pihak, mulai dari para pendahulu hingga mereka yang masih aktif mengabdi. Ia menyebut ada yang masih bersama keluarga besar UMI dan ada pula yang telah lebih dulu berpulang. Jasa mereka, menurutnya, selalu diingat dan dihargai karena capaian hari ini merupakan hasil perjuangan panjang.
Ia juga menilai kemajuan perguruan tinggi lain di Sulawesi patut diapresiasi. Semakin banyak kampus yang maju, ujarnya, semakin luas pula ruang untuk saling belajar. Hambali menekankan semua perguruan tinggi memikul tanggung jawab yang sama dalam mencerdaskan generasi muda dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Bagi Hambali, keberadaan guru besar harus berdampak nyata pada kualitas pendidikan yang diterima mahasiswa. Ia memahami bahwa orang tua memilih perguruan tinggi bukan semata karena nama kampus atau jumlah profesornya. Mereka berharap anaknya belajar dengan baik, memperoleh bimbingan, berakhlak mulia, menyelesaikan studi, hingga kelak bermanfaat bagi orang lain. Harapan itulah yang disebutnya sebagai amanah yang wajib dijaga.
Karena itu, ia menegaskan UMI harus tetap terbuka terhadap saran, masukan, maupun kritik dari mahasiswa, orang tua, alumni, dosen, tenaga kependidikan, mitra, dan masyarakat. Jika ada layanan yang dinilai belum baik, ia meminta hal itu disampaikan. Semua masukan, menurutnya, menjadi bahan perbaikan meski tidak dapat diselesaikan sekaligus.
Hambali berharap para guru besar dan seluruh sivitas akademika semakin aktif membantu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. UMI, katanya, tumbuh bersama masyarakat sehingga keberadaannya harus dirasakan manfaatnya. Ia juga tidak ingin masyarakat percaya hanya karena banyaknya profesor atau capaian akademik, melainkan karena perbaikan yang terlihat dan dirasakan langsung.
Sumber: detik.com






