Lutimterkini- Makassar — Kualitas udara di Kota Makassar pada Rabu, 14 Oktober 2026, masuk kategori sangat tidak sehat. Pemantauan Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar menunjukkan konsentrasi partikulat PM2.5 melonjak sejak malam sebelumnya.
Ketua Kelompok Kerja Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha Pahlawan, memaparkan bahwa lonjakan partikulat di kota ini tergolong signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, sebaran PM2.5 masih berada di kisaran 80 µg/m³ atau kategori Tidak Sehat. Kini angkanya menembus lebih dari 150 µg/m³, yang berarti masuk kategori Sangat Tidak Sehat.
Rizky menyebutkan bahwa sejak 13 Oktober pukul 20.00 Wita hingga pagi hari berikutnya, konsentrasi partikulat masih bertahan di atas 150 mikrogram per meter kubik. Angka itu konsisten berada dalam kategori sangat tidak sehat. Sebagai gambaran, kategori Tidak Sehat menurut sebaran PM2.5 berada di rentang 15,5-55,4 µg/m³, sedangkan kategori Sangat Tidak Sehat mencakup rentang 150,5-250,4 µg/m³.
Sumber polutan yang menyebabkan kabut asap pekat di Makassar hari itu, menurut Rizky, berasal dari Sulawesi Selatan dan wilayah timur Sulsel. Ia memastikan pemicu utama adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulsel, Maluku, dan Papua. Wilayah yang dimaksud meliputi Papua bagian selatan, Maluku khususnya bagian selatan, serta Maluku bagian tenggara barat.
Rizky menambahkan bahwa polutan yang berasal dari dalam Kota Makassar sendiri sebenarnya relatif sedikit. Namun, angin yang membawa partikel akibat karhutla dari sejumlah daerah seperti Bone dan Soppeng turut menurunkan kualitas udara di Makassar. Data sehari sebelumnya mencatat adanya laporan kebakaran hutan dan lahan di sekitar Bone dan Soppeng, yang diduga menjadi salah satu sumber polutan ke wilayah Makassar.
Ia juga menegaskan bahwa polutan yang menurunkan kualitas udara di Makassar bukan berasal dari Kalimantan. Pemantauan BMKG menunjukkan angin dari arah Kalimantan tidak lagi bertiup menuju Makassar dan sekitarnya. Menurutnya, arah angin yang telah berubah membuat polutan tidak lagi terbawa dari kawasan tersebut, karena penyebaran polutan sangat dipengaruhi dari mana angin bertiup.
Menghadapi kondisi ini, BMKG mengimbau warga mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, khususnya pada awal pagi dan awal malam saat konsentrasi PM2.5 mencapai puncak. Masyarakat juga diminta memakai masker ketika beraktivitas di luar. Rizky menyarankan kegiatan seperti jogging pagi atau sore sebaiknya dihentikan sementara mengingat udara Makassar sedang dalam kategori sangat tidak sehat.
Sumber: detik.com






